Aku pun memasuki kelas dengan tergesa-gesa. Saat aku masuk ternyata bu Tessa sudah ada di dalam kelas. Aku pun buru-buru masuk ke kelas dan mengucapkan salam. "Assalamualaikum, maaf bu saya kesiangan." ucapku."Waalaikumsalam, sudah cepat sana duduk!" perintah bu Tessa kepadaku.Aku pun duduk dan bu Tessa pun mulai berbicara " anak-anak ibu sangat kecewa dengan hasil kalian saat ini, apalagi hasil kamu Rafli. Kamu selalu mendapatkan nilai kecil di matematika, apa kamu tidak malu. Kamu itu sangat beda dengan kakakmu Hari yang sangat pintar matematika. Tapi coba kamu, kamu hanya bisanya mendapatkan nilai kecil dan menyontek." cela bu Tessa. Jujur saat itu aku hanya bisa terdiam terdiam seribu bahasa. Jantungku seakan berdebar keras, rasa maluku yang tak bisa tertahan lagi, belum lagi ditambah rasa sakit hati yang bergelimang dalam dadaku. Itu yang membuat aku menjadi termotivasi. " lihat saja nanti bu, aku pasti bisa dan aku bisa lebih pandai dari kakakku. lihat saja nanti" ucapku kesal dalam hati.
Hari ini aku sudah membuktikan kepada dunia bahwa aku bukanlah seorang Rafli yang hanya bisa diejek dan dicaci, melainkan aku sudah bisa disanjung banyak orang dari kepintaranku dalam matematika. Sudah hampir 10 tahun kejadian itu berlalu pada benakku, aku hanya bisa tersenyum dengan semua kejadian itu. Kejadian itu yang membuatku menjadi lebih bersemangat dalam berjuang. Ejekan itu yang membuatku sadar akan ketidakbisaanku terhadap suatu pelajaran. Dan kejadian itu yang membuatku menjadi sukses hingga saat ini. Saat ini aku sudah selesai membuat skripsi untuk gelar S2 ku, kini aku mendapat beasiswa S3 ke Perancis.Ya, menjadi seorang doktor matematika. Itu yang aku impikan. Tetapi di tengah jalan tiba-tiba aku mengalami suatu kejadian yang teramat pahit. Aku terjatuh dari tangga di kampusku dan itu yang membuat aku menjadi buta. Gelar S3 yang ingin aku dapatkan tak bisa kupenuhi, dan aku takbisa melanjutkannya Betapa sedih hatiku disaat aku ingin menjadi seseorang yang berhasil ternyata Tuhan tidak menyetujui ini. Aku hanya bisa menangis, menangis di dalam hati dan pada saat itu juga aku akan berusaha untuk belajar mempelajari huruf braile dan mulai mengenali dunia seperti ini. 2 tahun pun berlalu aku lewati dengan kebutaanku. Aku yang buta saat ini sedang bekerja sebagai seorang dosen matematika. Mungkin kebanyakan orang kaget melihat ku menjadi seperti ini. Seorang Rafli yang buta bisa menjadi dosen matematika. Ya, itulah keajaiban Tuhan yang diberikan kepada kita semua....
1 komentar:
Posting Komentar